Budaya

Ritual Menjadi Pesilat Minang

Sumbarkita.com, Padang – Silek atau silat merupakan salah satu kesenian khas Minangkabau  yang telah mendunia. Selain gerakannya yang indah namun lugas, dalam Silek banyak falsafah hidup bagi para pasilek untuk tidak salah melangkah. Namun sebelum mendapatkan ilmu silat dari para guru, ada sejumlah prosesi yang harus dilewati. Seperti orang tua dan menyembelih ayam, sebagai pedoman sang guru mengenal tabiat muridnya.

Sambil membawa seekor ayam, calon murid dengan diantar orang tua, datang ke sasaran atau perguruan silat di Sarik Sakti di kawasan Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji Kota Padang. Ayam diserahkan kepada sang guru yang menjadi simbol kerelaan dtan keseriusan orang tua menyerahkan anaknya untuk dibimbing.

Setelah kedua pihak sepakat, ayam yang sudah dimantrai disembelih di halaman perguruan dengan disaksikan secara bersama. Penyembelihan sendiri juga sangat penting, karena sang guru bisa mengetahui tabiat calon muridnya. Dipercaya, gerakan ayam yang sudah disembelih adalah gambaran tingkah laku sang murid.

Ayam yang dibawa calon – calon murid, lalu dimasak oleh kaum ibu, untuk kemudian disantap bersama. Para ibu merupakan orang tua murid dan keluarga perguruan.

Di perguruan Silat Minang umumnya, pelajaran utama bukanlah olah kuda – kuda atau jurus – jurus yang mematikan. Namun bagaimana si murid di didik menjadi pribadi berbudi pekerti berlandaskan agama dan adat minangkabau . Sang guru percaya,  pelajaran iitu akan melindungi muridnya dan ilmu beladiri warisan nenek moyang agar tidak disalahgunakan.

Keberadaan silat di Minangkabau juga menjadi identitas dari setiap daerah atau nagari yang ada. Masing – masing daerah punya karakter silat berbeda yang disesuaikan dengan topografi daerah. Seperti kuda-kuda silek daerah pasisia dengan daerah darek.(Ich)

Komentar Anda