Budaya

Janjang Ladiang, Atraksi Unik dari Sumatera Barat

Sumbarkita.com, Solok  Selain silek atau silat yang sudah dikenal luas, masyarakat Minangkabau juga memiliki atraksi Janjang Ladiang atau Tangga Pedang.

Atraksi jenis debus ini kerap dipertontokan masyarakat Talang Babungo, Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok untuk menyambut tamu, serta memeriahkan acara perkawinan.

Disebut Janjang Ladiang, karena kayu yang biasanya menjadi pijakan tangga, diganti dengan golok atau pedang yang tajam. Namun tidak semua orang bisa ikut menaiki tangga, karena harus direstui dulu oleh sang guru. Jika tidak, kaki bisa terluka. Konon dulunya Janjang Ladiang digunakan untuk menghambat masuknya pencuri ke dalam rumah.

Atraksi berbahaya ini kerap ditampilkan di acara – acara perkawinan dan menanti tamu. Biasanya beriringan dengan tari piring di atas pecahan kaca. Konon kepandaian ini dulunya digunakan untuk menghindari pencuri yang masuk ke rumah.

Tidak hanya para pendekar , turis asing pun bisa menaiki tangga ini tanpa khawatir kaki terluka oleh tajamnya golok. Tentu saja setelah mendapat izin dan pengawasan dari sang guru.

“ Ini sungguh berbeda. Saya awalnya takut karena naik pedang yang tajam. Tapi ternyata tidak apa-apa dan tidak terluka “ Ujar Tita, wisatawan asal Inggris usai menaiki tangga.

Menurut penyelenggara Janjang Ladiang Samsuardi, saat ini atraksi ini dulunya berkembang di kalangan Tarekat. Namun kini mulai jarang ditemui.

Atraksi Janjang Ladiang biasanya juga ditampilkan bersama atraksi Tari Piring di atas kaca dan atraksi silat. Biasanya dimainkan oleh anak – anak.

“ Tari Piring di atas kaca dan janjang lading ini unsurnya debus. Debus ini dipelajari dari ilmu sufi yang didapat di surau. Mereka yang mencoba naik tangga itu tidak akan terluka karena kita sudah izinkan. Yang sudah diberi zin kita jamin tidak akan terluka “ ungkap Syamsuardi Rajo Bilang, penyelenggara atraksi Janjang Ladiang.

Keunikan atraksi Janjang Ladiang, menambah keragaman seni tradisi di Sumatera Barat dan menambah daya tarik pariwisata. (Ncu).

Komentar Anda